click to generate your own text

Rabu, 08 Juni 2011

Di Gapura Kita Bertemu

Di Gapura Kita Bertemu
Oleh: Drs. H. Akhmad Nurhadi, S.Pd., M.Si.

                Fungsi puisi di antaranya  merupakan  media komunikasi di samping media ekspresi. . Berkomunikasi melalui puisi tentu saja bukan sekedar greeting, tetapi komunikasi intensif sekaligus artistik.    Segenap daya –imaji, lambang, tanda, - dapat ditangkap pembaca sebagai pesan (messege).  Dari sinilah kemudian berkembang apa yang Horace  sebut sebagai dulce and utile.  Puisi itu indah dan berguna.
                Ketika kita berhadapan dengan puisi (baca: Antologi Puisi –antologi, bukan ontologi-), maka puisi   menyapa kita atau kita menyapa puisi.  Pembacaan semacam itulah yang dimaksud dengan proses komunikasi. Proses komunikasi adakalanya berhasil dan ada kalanya gagal. Proses komunikasi gagal manakala kita dan puisi terpisah jurang  perbedaan yang tajam. Perbedaan itu bisa berujud perbedaan visi, konsepsi, latar budaya, bahasa, dan sebagainya atau eksistensi  puisi itu sendiri. Puisi yang dibentuk melalui akrobat kata-kata, atau spekulasi bahasa jelas tidak akan bermakna. (Boro-boro pembaca disuruh mengerti atau memahami, penyairnya −itupun kalau boleh disebut penyair−  sendiri  tidak akan mempunyai gambaran apa-apa terhadap puisinya. Puisinya tidak berbicara apa-apa.
                Puisi-puisi dalam  antologi “Sepasang Hati Gapura” cukup berhasil memberikan jalinan komunikasi.  Laut –dalam maknanya yang metaforis atau simbolis− mendomisasi puisi-puisi  yang termuat di dalamnya.  Antologi ini   berisi puisi-puisi Khairul Umam dan Nur Khalis mesing-masing menyertakan 15 judul karya puisinya. Jadi berisi 30 puisi.
                Sedemikian   intensnya laut dalam antologi ini membuat  “The Old Man and The Sea” karya maestro sastra klasik Ernest Hemingway mereferensi dalam upaya mengapresiasi karya penyair darii desa Gapura  Sumenep tersebut.  Judul-judul puisi berikut mengindikasikan kenyataan ini: Laut dan Laki-laki, Sebentar Saja Kita Bersama Pelaut Tua Milik Kita, Yang Berteman Gelombang, Sepanjang Jalan ini, Anak Kecil di Tepi Laut, Pada Pagi yang Resah, dan sebagainya.
                 Kita  disuguhi tragik kehidupan.  Puisi “Kandara” mewakili sisi kehidupan ini, di samping baris-baris:
                                    Dia terheran melihat wajah anak itu
                                    Persis sama seperti payung yang dibawanya
_hitam legam
                                    Lalu matanya yang sayu meraba awan bergumpal
                                    Kelam
                                                                                     (Seorang Anak Kecil dan Sebuah Payung)

                                    Namun           
                                                            _  yang merajam takdirku di sungai kala itu
                                    Dengan sebuah pancing yang kita pegang ujungnya
                                    Adalah kisah hujan pada kemarau
                                                                                    (Bermain dengan Masa Lalu)

                                    Di sanalah dia akan membunuh
                                    Ayahnya seniri
                                                                                    (Seorang Anak Kecil  dan Sebilah Belati)
                                    juga  laki-laki yang sendiri terbakar mimpi
                                    lantas hangus dan mati
                                                                                    (Laut dan Laki-laki)

            Kita juga disadarkan bahwa harapan selalu masih ada.. 
                                    Kenapa tak kita ikuti saja kekhusukan mereka
                                    Sebagai kekhusukan para nabi?
                                    Mungkin di sana kita akan mengert
                                                                                    (Untuk yang Terluka)

                                    Khumairah, tak ada lagi titik embun yang kau puja disini
                                    Namun bukan berarti kita tak bisa
                                    Menciptakannya lagi
                                                                                    (Sajak untuk Sebuah Negeri)
                                     :tapi salam ini tak akan pernah berhenti!
                                                            __assalamu’alaikum...        
                                                                        (Declaration Letter)
            Tentu saja tak ketinggalan suguhan  sensualitas cinta. Perlu dimaklumi  ke dua penyair tersebut masih Belia. Puisi ”Other Side of Bride and Brigedroom Night”  cukup berhasil menyajikan sensualitas cinta tanpa terjebak kecengengan atau eksplorasi berlebihan terhadap seksualita.
                                    sebab cumbuku semakin keras dan kekal dalam persetubuhan
                                    aku jadi lupa gemuruh birahi doa yang memekakkan sepi dan hayatku
                                    membutakan dzikir dan tahajjudku
                                    sungguh, aku mendulang keliru.
                                                                            (Other  Side of Bride and Brigedroom Night)
                                    Aidah, jika semua sudah selesai. bisakah kau menemuiku
                                    Di ceruk yang dalam. jauh dari keramaian?
                                    Di sini!
                                                                                    (Sebaris Sapa untuk Aida)
            :Di luar problem sensualita, kita dapat menjadikan Santiago, protogonis dalam novel Ernest Hemingway sebagai referensi. Tentunya kita boleh menjadikan siapa saja sebagai referensi baik bersumber dari tokoh fiksi, maupun tokoh fakta. Kita gunakan asumsi ini bukan semata-mata karena kita mengikuti paham Mimesis ala Plato atau Aristoteles.
            Lelaki tua Santiago telah mengalami tragik kehidupan, harapan, atau barangkali sensualitas cinta yang sudah lama ditinggalkannya. Santiago telah mengalami semuanya. Pada saatnya kitapun dapat mengalami segalanya.
            Kita –Santiago, Khairul Umam, Nur Khalis SB, dan saya− telah bertemu di Gapura. Sebenarnya kita bisa bertemu di Pendopo, di Candi, di Pesantren, atau di mana saja. Bahkan kapan saja. Karena karya sastra selalu  mampu meretas ruang dan waktu.
            Kita telah bertemu. Kita akan selalu bertemu!
`                                                                                                                                                
Sumenep, 25 Desember 2010

               
               

Bermain Sastra Dengan Mahasiswa

BERMAIN SASTRA DENGAN MAHASISWA
oleh: AKHMAD NURHADI MOEKRI

                Hidup adalah permainan. Kita bermain dengan siapa saja dan apa saja, bahkan tidak jarang kita bermain dengan diri kita sendiri.  Barangkali pikiran saya terisi dengan Panggung Sandirwaranya Ahmad Albar, yang akhir-akhir ini lagu tersebut sering kita dengar. Entah siapa pula penyanyinya:
                Dunia ini panggung sandiwara
                Ceritanya  mudah berubah
                Kisah Mahabharata atau tragedi  dari Junani
                Setiap kita dapat  satu peranan
                yang harus kita mainkan
                ...

                Orang bermain sandirwara, orang bermain politik, bermain gila, bermain musik, bermain sastra. Bermain sastra, sebuah frase yang kedengarannya aneh, tapi sesuatu yang aneh biasanya mempunyai masa sendiri untuk selanjutnya menjadi tidak aneh. Akhir abad XIX penduduk pribumi  begitu takjub memandang noni-noni Belanda dengan rambut berkepang dua mengendarai kereta angin alias sepeda pancal. Kok tidak jatuh,ya? Sebuah pertanyaan sederhana tapi sesungguhnya memerlukan kedalaman Mekanika untuk menjelaskannya.  Seharusnya pertnyaan cerdas semacam ini perlu dikagumi, tetapi pada buku Bumi Manusia oleh Pramoedya Ananta Toer. Perasaan takjub melihat keanehan noni-noni Belanda bersepleda, bukan karena kedalaman ilmu pengetahuan pribumi, tetapi semata-mata karena pribumi tidak mendapatkan akses bersentuhan dengan sepeda pancal, apalagi memilikinya. Suatu kemiskinan jasmani dan rohani yang benar-benar parah. Di masa penjajahan hal ini merupakan sesuatu yang lumrah.
                Pengarang juga suka dengan keanehan-keanehan. Iwan Simatupang dengan novel-novelnya yang aneh. Ziarah, Merahnya Merah,  Kooong pada mulanya merupakan novel-novel yang aneh.   Demikian juga O, Amuk, dan Kapak pada mulanya terasa aneh. Mantera yang dihidupkan kembali oleh Sutardji Calzoum Bachri lewat puisi-puisinya. Sebuah gejala atavisme. Putu Wijaya dengan Anu, Aduh, dan Wah. Drama yang kreatif. Barangkali memang dalam sastra keanehan  dapat didefiniskan sebagai kreativitas.  Kemudian ketika muncul keanehan-keanehan baru ,  maka yang lama menjadi tidak aneh, bahkan menjadi klasik.
                Anggapan karya  sastra sebagai permainan kata-kata memang tidaklah sepenuhnya benar, tetapi tanpa  bermain dengan kata-kata pengarang tidak dapat berbuat apa-apa. Bandingkan sastrawan dengan pelukis yang bermain dengan warna dan garis, pemahat bermain dengan bentuk, penari bermain dengan gerak, dan jangan lupa penyanyi bermain dengan nada dan irama.
                   Sekarang saya mengajak mahasiswa saya bermain sastra, khususnya genre puisi, sebagaii pelengkap  kegiatan perkuliahan Apresiasi Puisi dan Prosa Fiksi. Tentu saja Antologi ini   dapat digunakan sebagai salah satu tolok ukur, sekali lagi salah satu, bukan satu-satunya.
                Kepada seluruh mahasiswa tercinta saya berharap pada saatnya nanti menulis puisi bukan beban, tatapi merupakan kebutuhan. Itu artinya Saudara-saudara mahasiswa  sudah menjadi penyair. Semoga!
                                                                                                                                            
 Sumenep, 2 Nopember 2010
               
-

Kamis, 17 Maret 2011

Kumpulan Berita

Berita 1

RSBI dan Penyelewengan di Semua Level

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi X DPR RI menilai, isu utama perlu dievaluasinya rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) bukan di level mana penyalahgunaan terbesar terjadi. RSBI terbukti telah membuka peluang penyelewengan dana di semua level sekolah.

Demikian diungkapkan anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Golkar Hetifah Sjaifudian, Selasa (15/3/2011), menanggapi kisruh RSBI/SBI yang kembali mengemuka. Ia mengungkapkan, sampai saat ini pun masih banyak keluhan dan pengaduan yang muncul tentang RSBI/SBI mulai level SD hingga SMA.

"Saya sudah minta agar Komisi X mengagendakan topik ini dan meminta Kemdiknas mempresentasikan hasil evaluasinya secara transparan dan segera mengubah kebijakan tentang RSBI. Jika perlu UU Sisdiknas juga harus direvisi," ujar Hetifah.

Seperti diberitakan, penyalahgunaan dana dari pemerintah pusat, provinsi, dan pungutan orangtua siswa untuk rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) paling banyak terjadi di jenjang SMA. Sementara di tingkat SD hanya sekitar 25 persen.

Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Senin (14/3/2011), mengakui dana untuk RSBI tidak seluruhnya digunakan untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar dan kualitas guru, melainkan untuk pembangunan fisik seperti perbaikan ruangan kelas, pembangunan laboratorium, pemasangan mesin pendingin ruangan, dan pagar atau gerbang sekolah.

Untuk itu, hasil evaluasi pemerintah terhadap RSBI itu akan menjadi landasan penyusunan peraturan Menteri Pendidikan Nasional mengenai RSBI yang antara lain akan memperketat penggunaan dana. Penyalahgunaan penggunaan dana oleh RSBI ini, kata Fasli, menjadi fokus utama evaluasi pemerintah. 
Sumber Ikatan Guru Indonesia 

Berita 2

70 Persen Guru sekolah Internasional Tak Mampu Berbahasa Inggris

TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR- Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Mahmud BM mengakui perubahan status sejumlah sekolah rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) ke sekolah berstandar internasional di Makassar masih mengalami sejumlah kendala. Salah satu kendala besar adalah minimnya guru yang mampu berbahasa Inggris, padahal bahasa pengantar sebagian besar mata pelajar di SBI adalah bahasa Inggris.

Mahmud menyampaikan hal tersebut kepada Tribun, Senin (14/3/2011). "Saya harus mengakui jika tidak lebih dari 30 persen guru yang mampu berbahasa Inggris. Kami sudah melakukan berbagai upaya namun belum menunjukkan perubahan signifikan padahal SBI sudah mendesak," kata Mahmud via telepon selulernya.

Dinas Pendidikan juga telah memprogramkan pelaksanaan pelatihan atau kursus bahasa Inggris bagi mereka yang belum mampu berbahasa Inggris. "Kalau guru Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), dan Bahasa Indonesia tidak menjadi masalah karena pengantarnya menggunakan bahasa Indonesia tetapi mata pelajaran sains dan sosial harus berbahasa Inggris," keluh Mahmud.

Sumber Ikatan Guru Indonesia 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More